Desa Dukuhturi yang terletak di Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes
secara geografis dibatasi oleh Sungai Keruh disebelah timur dan selatan.
Sebelah barat dibatasi oleh Jl. P. Diponegoro sedangkan disebelah utara
berbatasan dengan Desa Penggarutan.
Dalam sejarah menurut penuturan para sesepuh desa yang masih hidup,
Desa Dukuhturi yang berpenghuni adalah wilayah desa bagian tengah ke
utara. Seiring dengan adanya pendirian pabrik tapioka yang bernama NV.
Hogwan sebelum tahun 1900-an di Dukuhturi, terjadi arus perpindahan
penduduk masuk ke Dukuhturi karena ternyata dengan berdirinya pabrik
tersebut seolah menjadi magnet/daya tarik tersendiri sehingga banyak
penduduk dari luar yang berbondong-bondong masuk ke Dukuhturi dengan
harapan dapat menjadi tenaga kerja di pabrik tersebut.
Yang paling menyolok adalah terjadi perpindahan penduduk dari
Pesayangan Kecamatan Dukuhturi Kabupaten Tegal (sekarang) untuk menetap
di desa ini karena sebagian besar menjadi pekerja di pabrik tapioka NV.
Hogwan tersebut. Dari situlah cikal bakal nama Dukuhturi yang
dipergunakan sampai dengan sekarang diyakini berasal dari nama daerah
asal pekerja tersebut. Hal tersebut tidak berubah seiring berhenti
beroperasinya NV. Hogwan yang kemudian beralih nama menjadi PT. Bumiayu
kurang lebih pada bulan Februari 1961 akibat adanya UUPA (Undang-Undang
Perubahan Agraria).
Dari adanya UUPA Tahun 1961 tersebut tercatat sebuah peristiwa besar
yaitu diserahkannya aset tanah milik ex NV. Hogwan oleh PT. Bumiayu
kepada Pemerintah Desa Dukuhturi yang saat itu dijabat oleh H. Kamali.
Aset tanah yang diserahkan adalah Kompleks Lapangan Asri mulai dari
sebelah selatan jalan Lapangan Asri yang sekarang sampai dengan batas
sungai disebelah selatan Lapangan Asri. Batas sebelah baratnya adalah
sungai dan sebelah timurnya sampai dengan bekas sumur bor yang sekarang
dimanfaatkan oleh warga masyarakat sebagai sarana mandi dan mencuci.
Cerita sejarah sejak kapan secara administratif diakui menjadi desa.
Secara persisnya Desa Dukuhturi diakui secara resmi sebagai satu
wilayah administratif tidak ada yang mengetahui. Hal ini dikarenakan
sudah tidak adanya saksi hidup dan minimnya sumber informasi yang
menyangkut sejarah asal-usul desa. Hanya saja berdasarkan penelusuran
TPRA RPJM-Desa Desa Dukuhturi diperoleh informasi bahwa sejak kurang
lebih tahun 1900 – 1931 Desa Dukuhturi sudah menjadi suatu wilayah
administratif yang dapat dibuktikan dengan adanya dua periode
kepemimpinan kepala desa yang pernah menjabat yaitu yang bernama Mulhad
dan Daklan Kartasemita.
Sejarah perkembangan setelah menjadi desa
Dalam perkembangan berikutnya setelah periode jabatan Kepala Desa
Daklan Kartasemita selesai pada tahun 1931, Desa Dukuhturi dipimpin oleh
Kepala Desa yang bernama Zabidi sampai dengan tahun 1937. Pada tahun
1937-1938 terjadi kekosongan tampuk pimpinan kepala desa Dukuhturi.
Setahun kemudian H. Kamali terpilih menjadi Kepala Desa berikutnya. Pada
saat terjadi peristiwa Clash II tahun 1947 dimana tentara Belanda
menyerang kembali Indonesia, H. Kamali mengungsi ke Wonosobo kemudian ke
Yogyakarta mengikuti pimpinan pemerintah daerah yang pro pemerintah
Republik Indonesia.
Pada saat itulah Pemerintah Belanda yang berkuasa menunjuk pejabat
Kepala Desa Dukuhturi yang kemudian lebih dikenal dengan istilah Kades
Rekomba yaitu yang bernama Rais sekitar tahun 1947. Setahun kemudian
Rais digantikan oleh Daun. Kemudian pada tahun 1949 Maan Sudjono
menggantikan posisi Daun sebagai Kepala Desa Dukuhturi.
Setelah proses penyerahan kedaulatan RI tanggal 27 Desember 1949, H.
Kamali sebagai Kepala Desa yang masih definitif pulang dari pengungsian
dan kembali memimpin desa Dukuhturi sampai dengan tahun 1971. Setelah
itu diteruskan oleh kepala desa-kepala desa berikutnya.
Perkembangan Desa Dukuhturi selanjutnya terjadi cukup pesat apalagi
setelah dibangunnya Jalan Lingkar Bumiayu yang sebagian melewati wilayah
teritorial Dukuhturi tahun 2004. Dengan adanya wilayah yang dilewati
jalan lingkar tersebut akhirnya dapat membuka akses transportasi dari
wilayah desa yang tadinya tertutup yang akhirnya lebih menggeliatkan
roda perekonomian khususnya di bidang transportasi dan perdagangan yang
berimbas semakin meningkatnya taraf hidup masyarakat. Di bidang
pembangunan sarana dan prasarana fisikpun mengalami tingkatan yang cukup
signifikan, mulai dari pengaspalan jalan desa, sarana air bersih, rabat
beton dan pavingisasi gang sampai dengan dibukanya jalan baru yang
saling berhubungan antara pedukuhan yang satu dengan yang lainnya.
Sesuatu yang pernah terjadi di desa ini
Beberapa peristiwa besar yang tercatat pernah terjadi di desa Dukuhturi antara lain :
- Tahun 1926 : Mewabahnya penyakit Pes dengan korban jiwa cukup banyak.
- Tahun 1931 : Terjadinya gempa bumi besar yang memporakporandakan sebagian besar bangunan yang ada
- Tahun 1937 : Terjadinya hujan abu yang cukup tebal akibat terjadinya letusan Gunung Kelud di Jawa Timur
- Tahun 1953 : Terjadinya hujan abu akibat letusan Gunung Merapi di Jawa Tengah.
- Tahun 1980 : Terjadinya hujan abu akibat letusan Gunung Galunggung di Jawa Barat
Prestasi yang pernah diraih
- Juara I Lomba Desa Tingkat Kabupaten Brebes Tahun 2004
- Juara II Lomba Desa Tingkat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004
Nama-Nama Kepala Desa Dukuhturi
|
No
|
Periode
|
Nama Kepala Desa
|
Keterangan
|
|
1.
|
1900 – 1927
|
Mulhad | |
|
2.
|
1927 – 1931
|
Daklan Kartasemita | |
|
3.
|
1931 – 1939
|
Zabidi | |
|
4.
|
1939 – 1971
|
Kamali | |
|
5.
|
1971 – 1989
|
Abdul Chalim | |
|
6.
|
1989 – 1997
|
Ismail Toip | |
|
7.
|
1998 – 2006
|
Achmad Effendi | |
|
8.
9.
|
2007 – 2013
2013-sekarang
|
Achmad EffendiDrs.H.Amrozi Wa’an, MM
|
Kondisi Geografis
|
No
|
Uraian
|
Keterangan
|
|
1.
|
Luas Wilayah : 300.730 M2 | |
|
2.
|
Jumlah Dusun :1). Dusun Krajan
2). Dusun Pengempon 3). Dusun Dukuhturi 4). Dusun Karangtuang 5). Dusun Bayur 6). Dusun Kalimarong 7). Dusun Talok 8). Dusun Talok Timur 9). Dusun Taloksari 10). Dusun Rancakalong 11). Dusun Ledug |
|
|
3.
|
Batas Wilayah :
|
|
|
4.
|
Topografi :
|
|
|
5.
|
Hidrologi :Irigasi berpengairan : Teknis | |
|
6.
|
Klimatologi :
|
|
|
7.
|
Luas lahan pertanian :
|
|
|
8.
|
Luas lahan permukiman : 119,730 Ha | |
|
9.
|
Kawasan rawan bencana : Ha |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar